Kel. 10 Ibnu Bajjah: Sejarah dan Pemikiran Filsafatnya
Ibnu Bajjah
https://geotimes.id/opini/sejarah-dan-biografi-ibnu-bajjah/
Abu-Bakr Muhammad Ibnu Yahya Ibnu Al-Sayigh atau Ibnu Bajjah lahir di Saragosa, Spanyol pada tahun 1082 M. ‘Avempace’ begitulah ilmuwan Barat biasa menyebut Ibnu Bajjah, ilmuwan Muslim terkemuka di era kejayaan Islam Spanyol. Beliau popular dengan panggilan Ibnu Bajjah yang berarti “anak emas”. Ibnu Bajjah dikenal sebagai seorang astronom, musisi, dokter, fisikawan, psikolog, pujangga, filsuf dan ahli logika serta matematikus.
Ibnu Bajjah dikenal sebagai penyair yang hebat, pamornya sebagai seorang sastrawan dan ahli bahasa begitu cemerlang. Salah satu bukti kehebatannya dalam bidang sastra adalah beliau meraih kemenangan dalam kompetisi puisi bergengsi di zamannya. Selain dikenal sebagai penyair, Ibnu Bajjah juga dikenal sebagai musisi. Ia piawai bermain musik, terutama gambus. Dan yang lebih mengesankan lagi, Ibnu Bajjah adalah ilmuwan yang hafal al-Qur’an. Selain menguasai beragam ilmu, Ibnu Bajjah dikenal pula sebagai politikus ulung. Kehebatannya dalam berbagai ilmu telah membuat banyak orang serta kalangan benci dan iri. Akhirnya Ibnu Bajjah meninggal dunia akibat diracun pada tahun 1138 M.
Adapun karya-karya Ibnu Bajjah, antara lain:
1. Kitab al-Nafs dikenal juga sebagai “Kitab al-Nafs wa’l-Ruh” (Buku tentang Jiwa dan Roh), Beliau membahas hubungan antara jiwa dan tubuh serta peran akal dalam mengarahkan jiwa menuju kesempurnaan.
2. Kitab al-Nabatat atau The Book of Plants membahas berbagai aspek tumbuhan, termasuk struktur dan fungsi organ-organ tumbuhan, pertumbuhan serta hubungan antara kehidupan tanaman dan prinsip-prinsip filsafat.
Ibnu Bajjah merupakan seorang filsuf yang ahli dalam menyandarkan ilmunya terhadap teori dan praktek ilmu-ilmu, seperti matematika, astronomi, musik serta mahir dalam ilmu pengobatan dan studi-studi spekulatif seperti logika, filsafat alam dan metafisika.
1. Metafisika
Berdasarkan pendapat dari Ibnu Bajjah, segala sesuatu yang ada (al-maujudat) dibagi menjadi dua : yang bergerak dan tidak bergerak.
2. Materi dan Bentuk
Ibnu Bajjah berpendapat jika materi berbentuk, hal itu akan terbagi menjadi dua yaitu ‘materi’ dan ‘bentuk’ begitupun seterusnya.
3. Jiwa
Ibnu Bajjah mengemukakan pendapatnya bahwa setiap manusia memiliki satu jiwa, jiwa ini tidak mengalami perubahan sebagaimana jasmani.
4. Akal dan Ma'rifat
Ibnu Bajjah berpendapat bahwa seseorang dapat mencapai puncak ma’rifat dan meleburkan diri pada akal aktif, jika ia telah terlepas dari sifat keburukan-keburukan masyarakat serta dapat memakai kekuatan pikirannya untuk memperoleh ma’rifat dan ilmu sebesar mungkin.
5. Akhlak
Menurut Ibnu Bajjah, manusia apabila perbuatannya dilakukan demi memuaskan akal semata, perbuatannya ini mirip dengan perbuatan Ilahi daripada perbuatan manusiawi.
6. Politik
Pandangan politik dari Ibnu Bajjah dipengaruhi oleh pandangan politik dari al-Farabi. Letak perbedaannya ada pada penekanannya. Al-Farabi pada kepala negara, sedangkan Ibnu Bajjah pada warga negara.
7. Manusia Penyendiri
Bagi Ibnu Bajjah, setiap orang mampu memgendalikan dirinya dan tidak ada penghambat kecuali ia meremehkan dirinya sendiri dan tunduk terhadap keburukan-keburukan masyarakat. Jika sekiranya setiap orang dapat meninggalkan sikap tersebut, tentulah masyarakat manusia keseluruhannya bisa mencapai kesempurnaan.
8. Teori Ittishol
Berdasarkan pendapat dari Ibnu Bajjah, penyatuan yang dilakukan bersifat intelektual, objek penyatuan ini bukan wujud tertinggi atau Tuhan melainkan maujud-maujud spiritual yang lebih rendah, termasuk akal aktif.
Berdasarkan pendapat dari Ibnu Bajjah, segala sesuatu yang ada (al-maujudat) dibagi menjadi dua : yang bergerak dan tidak bergerak.
2. Materi dan Bentuk
Ibnu Bajjah berpendapat jika materi berbentuk, hal itu akan terbagi menjadi dua yaitu ‘materi’ dan ‘bentuk’ begitupun seterusnya.
3. Jiwa
Ibnu Bajjah mengemukakan pendapatnya bahwa setiap manusia memiliki satu jiwa, jiwa ini tidak mengalami perubahan sebagaimana jasmani.
4. Akal dan Ma'rifat
Ibnu Bajjah berpendapat bahwa seseorang dapat mencapai puncak ma’rifat dan meleburkan diri pada akal aktif, jika ia telah terlepas dari sifat keburukan-keburukan masyarakat serta dapat memakai kekuatan pikirannya untuk memperoleh ma’rifat dan ilmu sebesar mungkin.
5. Akhlak
Menurut Ibnu Bajjah, manusia apabila perbuatannya dilakukan demi memuaskan akal semata, perbuatannya ini mirip dengan perbuatan Ilahi daripada perbuatan manusiawi.
6. Politik
Pandangan politik dari Ibnu Bajjah dipengaruhi oleh pandangan politik dari al-Farabi. Letak perbedaannya ada pada penekanannya. Al-Farabi pada kepala negara, sedangkan Ibnu Bajjah pada warga negara.
7. Manusia Penyendiri
Bagi Ibnu Bajjah, setiap orang mampu memgendalikan dirinya dan tidak ada penghambat kecuali ia meremehkan dirinya sendiri dan tunduk terhadap keburukan-keburukan masyarakat. Jika sekiranya setiap orang dapat meninggalkan sikap tersebut, tentulah masyarakat manusia keseluruhannya bisa mencapai kesempurnaan.
8. Teori Ittishol
Berdasarkan pendapat dari Ibnu Bajjah, penyatuan yang dilakukan bersifat intelektual, objek penyatuan ini bukan wujud tertinggi atau Tuhan melainkan maujud-maujud spiritual yang lebih rendah, termasuk akal aktif.
Komentar terkait makalah:
Terdapat kata asing yang tidak menggunakan huruf miring seperti "Kitab an-Nafs", merupakan kata yang berasal dari bahasa arab.

Komentar
Posting Komentar