Ibnu Rusyd: Sejarah dan pemikiran filsafatnya
Ibnu Rusyd
https://islamina.id/perjalanan-pemikiran-ibnu-rusyd-bagian-2/
Ibnu Rusyd adalah seorang filosof Islam yang cukup masyhur. Beliau memiliki Nama asli yaitu Abdul Walid Muhammad bin Ahmad ibn Rusyd, ia lahir di Cordova pada tahun 520 H / 1126 M. ia berasal dari keluarga besar yang terkenal yang mempunyai kedudukan dan keutamaan yang tinggi di Andalusia (Spanyol). Ibnu Rusyd adalah seorang tokoh filsafat, agama, syariat dan kedokteran yang terkenal pada waktu itu. Ibnu Rusyd tumbuh dan hidup dalam keluarga yang besar sekali gairahnya pada ilmu pengetahuan. Hal ini merupakan salah satu faktor yang ikut melempangkan jalan baginya menjadi ilmuan.
Hasil karya tulis Ibnu Rusyd yang masih dapat ditemukan yaitu:
1. Fashl al-Maqal fi ma bain al-Hikmat wa al-Syari’ah min al-Ittishal yaitu mengenai
hubungan antara agama dan filsafat.
2. Kedua adalah Al-Kasf’an Manahij al-Adillat fi ‘Aqa’id al-Millat, tentang kritik
terhadap metode para ahli ilmu kalam dan sufi.
3. Ketiga adalah Tahafut at-Tahafut, yang berisi tentang kritikkan terhadap al-Ghazali yaitu dalam karyanya Tahafut al-Falasifah.
Di Eropa latin, Ibnu Rusyd terkenal dengan
nama Explainer (asy-Syarih) atau juru tafsir Aristoteles. Sebagai juru tafsir martabatnya tak lebih rendah dari Alexandre d’Aphrodise (filosof yang menafsirkan filsafat Aristoteles abad ke-2 Masehi) dan Thamestius.
Hasil karya tulis Ibnu Rusyd yang masih dapat ditemukan yaitu:
1. Fashl al-Maqal fi ma bain al-Hikmat wa al-Syari’ah min al-Ittishal yaitu mengenai
hubungan antara agama dan filsafat.
2. Kedua adalah Al-Kasf’an Manahij al-Adillat fi ‘Aqa’id al-Millat, tentang kritik
terhadap metode para ahli ilmu kalam dan sufi.
3. Ketiga adalah Tahafut at-Tahafut, yang berisi tentang kritikkan terhadap al-Ghazali yaitu dalam karyanya Tahafut al-Falasifah.
Di Eropa latin, Ibnu Rusyd terkenal dengan
nama Explainer (asy-Syarih) atau juru tafsir Aristoteles. Sebagai juru tafsir martabatnya tak lebih rendah dari Alexandre d’Aphrodise (filosof yang menafsirkan filsafat Aristoteles abad ke-2 Masehi) dan Thamestius.
Dalam beberapa hal Ibnu Rusyd tidak sependapat dengan tokoh-tokoh filosof muslim sebelumnya, seperti al-Farabi dan Ibnu Sina dalam memahami filsafat Aristoteles, menurutnya pemikiran Aristoteles telah bercampur baur dengan unsur-unsur Platonisme yang dibawa komentator-komentator Alexandria.
Ibnu Rusyd sebagai seorang filosof Muslim merasa bukan pemikiran para filosof Muslim yang rancu, melainkan pemikiran Al Ghazali sendiri.
Ibnu Rusyd berpendapat bahwa antara
sebab dan akibat atau kausalitas terdapat hubungan keniscayaan. Pengingkaran
akan adanya sebab, yang melahirkan adanya musabab atau akibat merupakan
pernyataan yang tidak logis.
Secara tegas Ibnu Rusyd menyatakan bahwa pengetahuan akal tidak lebih daripada pengetahuan tentang segala yang maujud beserta sebab akibat yang menyertainya.
Ibnu Rusyd sebagai seorang filosof Muslim merasa bukan pemikiran para filosof Muslim yang rancu, melainkan pemikiran Al Ghazali sendiri.
Ibnu Rusyd berpendapat bahwa antara
sebab dan akibat atau kausalitas terdapat hubungan keniscayaan. Pengingkaran
akan adanya sebab, yang melahirkan adanya musabab atau akibat merupakan
pernyataan yang tidak logis.
Secara tegas Ibnu Rusyd menyatakan bahwa pengetahuan akal tidak lebih daripada pengetahuan tentang segala yang maujud beserta sebab akibat yang menyertainya.

Komentar
Posting Komentar